Jam menunjukkan pukul 19.45 ketika aku sampai di depan pintu rumah. Kakiku sudah berat sejak tadi, tapi yang lebih berat adalah perasaan bahwa hari ini — seperti hari-hari sebelumnya — berlalu begitu saja tanpa aku sempat memegang kendali atas hidupku sendiri.
Aku bekerja di industri perhotelan, di posisi yang mengharuskanku berhadapan langsung dengan tamu setiap harinya. Bulan-bulan ini, jam kerjaku bertambah jauh lebih panjang dari sebelumnya — kadang terasa seperti tidak ada jeda antara berangkat dan pulang.
Yang paling aku rasakan belakangan ini adalah rasa kehilangan arah. Aku punya mimpi ingin membangun usaha sendiri, belajar berjualan, pelan-pelan keluar dari zona bekerja di bawah orang lain. Tapi bagaimana caranya, kalau sebagian besar hari habis di tempat kerja, dan sisanya habis untuk sekadar memulihkan badan?
Sesampainya di rumah, istriku sudah menunggu. Kami ngobrol sebentar — itu waktu yang paling aku syukuri setiap harinya. Tapi aku tahu, dan dia pun mungkin merasakan, bahwa itu tidak cukup. Aku takut jarak itu pelan-pelan tumbuh tanpa kami sadari.
Ada satu hal lagi yang mengganggu pikiranku. Ibadahku. Di tengah kesibukan ini, aku merasa semakin sulit untuk istikamah menjalankan sholat 5 waktu. Bukan karena tidak mau — tapi karena rasa lelah itu kadang datang lebih dulu dari kesadaran. Dan itu membuatku gelisah dengan cara yang berbeda dari sekadar capek fisik.
Aku tidak tahu ini akan berakhir seperti apa. Yang aku tahu, aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku sedang mencoba menata ulang — hidupku, ibadahku, dan hubunganku dengan istri — satu langkah kecil setiap harinya. Mungkin itu yang bisa kulakukan sekarang.
Dan mungkin, dengan menuliskan ini, aku sedang memulai salah satu langkah itu.